; buat kamu
Beberapa malam itu benar-benar mencekam
Aku duduk, berbaring dalam kejang
Tanpa rokok, juga secangkir kopi
Kamu hadir di lagu-lagu sakau
Tanpa gurau, juga sedikit nasi
Kamu datang bersama dering-dering telepon
Lalu ...
Aku teringat sebuah sajak usang
Bikinan Mira Sato buat Remy .....
sajak Mira Sato buat Remy Silado itu aku lupa judulnya, tapi isinya aku hapal di liar kepala, begini:
Didepanmu aku bilang : Remy
Remy
Remy
Remy
Remy
Dibelakangmu aku bilang: MATAMU...!!
; buat kamu
Beberapa malam itu benar-benar mencekam
Aku duduk, berbaring dalam kejang
Tanpa rokok, juga secangkir kopi
Kamu hadir di lagu-lagu sakau
Tanpa gurau, juga sedikit nasi
Kamu datang bersama dering-dering telepon
Lalu ...
Aku teringat sebuah sajak usang
Bikinan Mira Sato buat Remy .....
sajak Mira Sato buat Remy Silado itu aku lupa judulnya, tapi isinya aku hapal di liar kepala, begini:
Didepanmu aku bilang : Remy
Remy
Remy
Remy
Remy
Dibelakangmu aku bilang: MATAMU...!!
beberapa hari ini
mayat itu
menyesaki nafasku
tawarkan belati
cuma sebilah saja
: berkarat tapi tak lapuk
lalu,
berikutnya adalah
sayatan ....
tikaman ....
geratan ....
tusukan ....
berbuah luka bernama
M A L A S
::: Nginden, 27 Juni 07 :::
Senja masih lalang saja
ketika kau muncul
dalam layar ponselku
mengabarkan berita gembira
: "Jemput aku besok jam 18.45
di Pasar Turi.
Aku datang dengan argo anggrek"
Lalu aku menjadi panda yang tersipu.........
Selamat pagi perwira,
Hari ini, kembali kubaca
Kehebatan pasukanmu
Menjadikan kawan berdarah-darah,
Kuraba sengit Poso
Menderit sekian sayat
Juga letupan yang :
Mengundang Izrail ke tengahan Sulawesi
Tak terasa taut saudara
Terganti seringan tangan timang senjata
Berayun tongkat nyawa terangkat
Menyisir pesisir alir nyinyir darah
Sebab sahaja tak lagi setia.....
Selamat pagi perwira,
Aku yakin kabar itu kau dengar
Aku yakin gegap itu kau sadap
Aku yakin tangis itu kau miris
Lantas.........
Masihkah kau nikmati sarapanmu,
Pagi ini, Perwira?
Hari ini, Minggu 21 Januari 2007.
Untuk kesekian kalinya aku numpang tidur di sekretariat teater Kusuma (yang bisa kami panggil dengan Bengkel). Masih pagi ketika Handphoneku berbunyi -sebelumnya sempat bergetar-, dikantong celana, sebelah kiri. Aku masih tertidur saat menyadari ada yang sedang "memanggilku". Mom's Home, begitu yang terlihat di layar HPku. Yap, ibuku sedang mencoba mengobati rindunya padaku nampaknya. Setelah saling menanyakan kabar dan kesehatan, Ibuku bilang, begini: "Sabtu besok tanggal dua tujuh Rizki kan wisuda, nah, Minggunya, tanggal dua lapan lamaran, dapat anak Desa .... (aku lupa), jadi bukan sama anak Bali itu lagi". (Perbincangan selanjutnya dengan Ibuku nampaknya tak lagi perlu aku sampaikan).
Aku langsung terpikir dua hal setelah menekan tombol "No" di HPku. Pertama, sebuah kabar gembira tentunya, sebab seorang kawan akan semakin tegas menapak masa depannya. Akan ada yang coba mempersempit dunia neh nampaknya, tentunya dengan pertemuan dua keluarga yang sebelumnya saling berjauhan, menjadu dua keluarga yang bersatu, oleh anak mereka masing-masing. Kedua, aku berpikir, betapa cepatnya nasib berputar, setelah wisuda langsung segera nikah. Wah, ini tentu sebuah era baru yang bagiku terlalu cepat. Dunia kampus, langsung terjun ke dunia rumah tangga. Adaptasi macam apa yang coba mereka terapkan kali ini?
Bagaimanapun juga, ini adalah kabar gembira bagiku.
Nah, sore harinya, lagi-lagi ketika aku sedang tertidur dan masih di Bengkel yang sama, aku mendapatkan 'panggilan' lagi. Namun kali ini sebuah SMS yang masuk. Dari ponsel Bapakku, bunyinya: "Ass.Wr.Wb. Guus, Adik'e Rizki meninggal dunia,tadi jam 4 sore." (Guus adalah panggilan sayang Bapakku ke anak-anak lelakinya yang artinya Bagus, = Cakep, nggantheng). Bukan Innalillahi Wa Inna Illaihi Roji'un yang aku sebut, tapi Subhanallah!!!!!
Ya maha Suci Allah. Puji Tuhan. Dalam sehari aku harus menerima dua berita dari obyek berita yang sama, namun dengan isi berita yang sangat-sangat bertolak belakang, dan tentu tak pernah terpikir sebelumnya oleh siapapun tentang apa yang akan terjadi. Baru beberapa saat kemudian aku nyebut Innalillahi .......
Maka apa yang bisa aku katakan. Belum lagi aku ngasih ucapan selamat pada Rizki kawanku yang akan menikah itu, lalu datang berita yang membuat setiap mahluk berduka atas perginya seorang saudara.
Selanjutnya hanyalah bahwa, datang dan pergi benar-benar sebuah pintu yang terkadang tak bisa kita tentukan sendiri. Bahwa kedatangan dan kepergian merupakan hal yang terkadang bukan sesuatu yang bisa dibuat kompromi, seperti teh panas manis atau tawar yang ingin kita minum. Ingin kuliah di UGM atau di Untag kita kelak.
Dan aku berpikir, bukankah memang seperti itu hidup, ada yang datang lantas tentunya ada juga yang pergi.
Lalu apakah kita harus senang dan bergembira saat datang dan berjumpa? Dan harus bersedih saat ada kepergian, perpisahan, perpecahan? lalu, jika kita gembira saat bertemu, sedih saat pisah, bukannya itu sebuah spontanitas saja, yang sebenarnya bisa kita latih, untuk selalu siap menghadapi segala kemungkinan terburuk dalam hidup, sehingga segala yang akan terjadi adalah sesuat yang SANGAT WAJAR dan bisa terjadi pada siapapun, kapanpun, dimanapun juga dalam kondisi bagaimanapun.
(Walah, apakah aku bisa menyikapi segala sesuatu itu sebagai hal yang SANGAT WAJAR? mungkin juga enggak...)
aku akan mengetuk pintumu, jika itu tertutup
aku akan memanggil namamu, jika itu tak kau sahut
aku akan menunggu ikhlasmu, jika itu kau kalut
aku akan temani diammu, jika itu jadi taut
aku akan ....., jika itu ....